BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial dimana
manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Kecenderungan
manusia tersebut berdampak positif sehingga muncul adanya kelompok sosial yang
didalamnya terdiri atas individu-individu yang berbeda akan tetapi mempunyai
beberapa kesamaaan yang menyebabkan mereka mengelompok bahkan menjadi salah
satu dari anggota kelompok sosial. Hal ini terbukti karena hampir semua manusia
pada awalnya merupakan anggota kelompok sosial yanag dinamakan keluarga
(Soekanto, 2012: 103).
Kelompok merupakan suatu unit yang terdiri
dari dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau yang saling
berkomunikasi (Huky, 1982:97). Dimana interaksi dan komunikasi antar
individu-individu ini akan berlangsung terus menerus. Komunikasi dan interaksi
merupakan unsur pokok kelompok dan harus bersifat timbal balik. Kemudian
menimbulkan berbagai kesamaan-kesamaan diantara individu-individu tersebut. Maka
timbulah kecenderungan untuk bersatu dan menjadi bagian dari suatu kelompok
sosial.
Jika lingkungan keluarga individu pertama kalinya
menjadi bagian dari suatu kelompok sosial. Maka diluar lingkungan keluarga,
yakni di lingkungan masyarakat banyak sekali macam-macam kelompok sosial.
Diantaranya, remaja masjid, karang taruna, PKK, dsb. Remaja masjid merupakan
dari salah satu bentuk kelompok sosial yang keberadaannya ada di sekitar kita,
bahkan kita secara tidak langsung terlibat didalamnya.
1.2 Rumusan Masalah
1)
Bagaimana konsep remaja masjid
sebagai kelompok sosial?
2)
Bagaimana ciri-ciri remaja masjid
sebagai kelompok sosial?
3)
Bagaimana remaja masjid di dalam
masyarakat?
1.3 Tujuan
1)
Untuk memaparkan konsep remaja
masjid sebagai kelompok sosial.
2)
Untuk menjelaskan ciri-ciri remaja
masjid sebagai kelompok sosial.
3)
Untuk memaparkan remaja masjid di
dalam masjid.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Konsep Remaja Masjid sebagai Kelompok Sosial
Manusia didalam
hidupnya butuh hidup bersama dengan orang lain, dengan begitu akan menjadikan
manusia menjadi manusiawi (Philipus, 2009: 46). Kelompok sosial ada karena ada
peran masyarakat didalamnya. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakatlah yang
menciptakan kelompok sosial sekaligus pelaku aktif terjadinya kelompok sosial.
Kelompok sosial atau social group adalah himpunan atau
kesatuan manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan di antara mereka.
Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong (Eko, 2012). Di
dalam kelompok sosial selalu terjadi
interaksi antar anggotanya. Interaksi-interaksi tersebut timbul karena
adanya kesamaan-kesamaan diantara mereka. Kesamaan-kesamaan tersebut antara
lain: adanya persamaan nasib, tujuan yang sama, ideologi yang sama, musuh yang
sama, dan suku bangsa yang sama. Dengan salah satu kesamaan tersebut suatu
kelompok sosial akan berlangsung cukup lama karena adanya interaksi timbal
balik dan relasi diantara anggotanya. Dengan kata lain kelompok sosial akan
berakhir apabila tidak adanya interaksii, komunikasi bahkan relasi diantara
anggota suatu kelompok.
Kelompok sosial berbeda dengan interaksi sosial. Akan tetapi,
interaksi sosial selalu ada dalam bagian proses kelompok sosial. Kelompok
sosial merupakan sesuatu yang sangat kompleks, karena pada saat waktu bersamaan
seorang individu dapat menjadi bagian dari anggota dari beberapa kelompok
sosial. Sebagai contoh, individu telah menjadi bagian dari anggota kelompok
pengguna hijab di kampus melainkan di lingkungan rumah seorang individu
tersebut juga menjadi bagian pula dari anggota remaja masjid.
2.2
Ciri-Ciri Remaja Masjid sebagai Kelompok Sosial
Suatu kelompok akan bisa disebut sebagai kelompok sosial
apabila mempunyai ciri-ciri yang menandakan bahwa kelompok tersebut merupakan
kelompok sosial. Secara umum, kelompok sosial mempunyai ciri-ciri: adanya
kesadaran pada setiap anggota kelompok bahwa dia merupakan bagian dari kelompok
yang bersangkutan, bersistem dan berproses, berstruktur, berkaidah dan
mempunyai pola perilaku, adanya hubungan timbal-balik antara anggota yang satu
dengan anggota yang lainnya. Serta adanya suatu faktor yang dimiliki bersama
sehingga hubungan antar mereka bertambah erat yang dapat merupakan nasib yang sama,
kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama (Soekanto,
2012:101).
Seperti yang dicirikan kelompok sosial secara umum, remaja
masjid juga mempunyai ciri-ciri yang menandakan dimana remaja masjid dikatakan
sebagai kelompok sosial. Remaja masjid dikatakan sebagai kelompok sosial karena
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1)
Adanya interaksi antar anggota
remaja masjid. Sebagaimana yang telah diketahui interaksi merupakan komponen
penting didalam kelompok sosial. Dengan adanya interaksi antar anggota remas
maka kelompok sosial akan berjalan terus. Sebaliknya jika tidak adanya
interkasi maka remas tidak bisa dikatakan sebagai kelompok sosial. Interaksi
antar anggota remaja masjid terjadi tidak hanya pada saat kegiatan berlangsung
di masjid dengan membicarakan kegiatan remas ataupun program kerja anggota
remas akan tetapi interaksi ini terjadi juga di luar kegiatan. interaksi diluar
kegiatan di masjid yakni anggota remas biasanya membahas tentang pendidikan,
IPTEK, dsb. Interaksi ini berlangsung terus menenerus sehingga dapat terjalin
hubungan yang sangat erat kekerabatannya diantara masing-masing anggota remaja
masjid.
2)
Adanya kesadaran bahwa bahwa dia
merupakan bagian dari anggota remaja masjid. Setiap anggota mempunyai tanggung
jawab masing-masing sesuai dengan posisinya di dalam remas. Antar anggota satu
dengan yang lain harus sadar bahwa keterkaitan antar anggota satu dengan yang
lain itu sangat penting. Dimana dengan contoh ketua remas mengingatkan
sekertaris untuk mencatat semua jadwal kegiatan remas yang akan dilakukan.
3)
Berstruktur, berkaidah, dan
mempunyai pola perilaku. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai perilaku di dalam
remas yaitu remas terdiri dari ketua, wakil, sekertaris, bendahara beserta
anggota-anggota lain yang mempunyai tanggung jawab sendiri sesuai jabatan yang
ada di dalam remas. Dimana jabatan didalam remas tersebut menentukan sikap dan
perilaku di dalam kegiatan remas. Sebagaimana contoh, bendahara bertugas
mengatur keluar masuknya uang di dalam kegiatan remas serta melaporkan kondisi
keuangan kepada ketua remas dan anggota remas lain.
4)
Bersistem dan berproses. Setiap
kelompok sosial tentunya mempunyai sistem yang dianut oleh setiap anggotanya.
Dimana remas Baitul Qohar ini mempunyai sistem yang berlandaskan nilai-nilai
Islam didalam kegiatannya. Sistem tersebut tentunya harus dipatuhi oleh semua
anggota remas. Sedangkan berproses didalam remas Baitul Qohar, yakni berproses di dalam kegiatan yang akan dilakukan. Dimana
kegiatan yang sebelumnya merupakan usul dari salah satu anggota kemudian
dilaksakan melalui tahap-tahap dilaksanakannya kegiatan tersebut.
2.3
Remaja Masjid di dalam Masyarakat
Salah satu bentuk suatu kelompok sosial adalah remaja masjid.
Dimana remaja masjid keberadaannya tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari.
Selain itu masyarakat merupakan objek sekaligus subjek dari kegiatan remaja
masjid. Seperti yang kita ketahui remaja masjid merupakan wadah perkumpulan remaja muslim yang
menggunakan Masjid sebagai pusat aktivitas kegiatannya (Hudzaifah). Remaja masjid merupakan kegiatan
remaja yang sangat baik karena dapat memperoleh lingkungan yang islami serta
dapat mengembangkan kreatitivitas.
Remaja masjid Baitul Qohar di Pulo Kalimalang Jombang ini
mempunyai suatu program kerja yang dimana program ini disusun setiap tahunnya.
Program kerja tersebut antara lain:
1.
Administrasi dan Kesekretariatan.
2. Keuangan.
3. Pembinaan Anggota.
4. Perpustakaan dan Informasi.
5. Kesejahteraan Umat.
6. Kewanitaan.
2. Keuangan.
3. Pembinaan Anggota.
4. Perpustakaan dan Informasi.
5. Kesejahteraan Umat.
6. Kewanitaan.
Setelah menyusun program kerja, remaja masjid Baitul Qohar
tentunya juga memiliki tujuan yakni peningkatan kualitas. Peningkatan kualitas
yang dimaksud adalah untuk meningkatkan keimanan, keilmuan dan amal shalih
mereka. Hal itu dilakukan dengan melakukan proses kaderisasi yang dilakukan
secara serius, sistimatis dan berkelanjutan, melalui jalur: pelatihaan,
kepengurusan, kepanitiaan dan aktivitas . Dalam proses perkaderan dilakukan
upaya-upaya penanaman nilai-nilai, akhlak, intelektualitas, profesionalisme,
moralitas dan integritas Islam. Sehingga diperoleh kader ideal Remaja Masjid
yang memiliki profil : remaja muslim yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia
yang mampu beramal shalih secara profesional serta memiliki fikrah Islam yang
komprehensif.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kelompok sosial ada karena ada peran masyarakat didalamnya. Seperti yang
kita ketahui bahwa masyarakatlah yang menciptakan kelompok sosial sekaligus
pelaku aktif terjadinya kelompok sosial. Kelompok sosial merupakan sesuatu yang
sangat kompleks, karena pada saat waktu bersamaan seorang individu dapat
menjadi bagian dari anggota dari beberapa kelompok sosial.
Seperti yang dicirikan kelompok sosial secara umum, remaja
masjid juga mempunyai ciri-ciri yang menandakan dimana remaja masjid dikatakan
sebagai kelompok sosial. Remaja masjid dikatakan sebagai kelompok sosial karena
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: adanya interaksi antar anggota remaja
masjid, adanya kesadaran bahwa bahwa dia merupakan bagian dari anggota remaja
masjid, berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku, serta bersistem
dan berproses.
Remaja masjid keberadaannya tidak jauh dari kehidupan kita
sehari-hari. Selain itu masyarakat merupakan objek sekaligus subjek dari
kegiatan remaja masjid. Remaja masjid Baitul Qohar di Pulo Kalimalang Jombang
ini mempunyai suatu program kerja yang dimana program ini disusun setiap
tahunnya. Setelah menyusun program kerja, remaja masjid Baitul Qohar tentunya
juga memiliki tujuan yakni peningkatan kualitas.
3.2 Saran
Dengan dibuatnya makalah ini,
pembaca diharapkan teliti dalam mengidentifikasi kelompok sosial yang
keberadaannya dekat dengan kita. Dimana menjadi bagian dari suatu kelompok
sosial memberikan dampak yang sangat positif bagi setiap anggotanya.
DAFTAR RUJUKAN
Eko, 2012. Kelompok Sosial. (Online),
(http://ekofoundation.wordpress.com/2012/05/25/kelompok-sosial-3/), diakses 22 Maret 2013.
Gerungan, W.A. 2004.
Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Hudzaifah, 2010. Organisasi Remaja Masjid.
(Online), (http://berjamaah.com/organisasi-remaja-masjid.html/trackback),
diakses 22 Maret 2013.
Huky, Wila. 1982. Pengantar
Sosiologi. Surabaya: Usaha Nasional.
Philipus, Ng. 2009. Sosiologi
dan Politik. Jakarta: Rajawali Pers.
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu
Pengantar. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
.